"Bukan mencari yg lebih baik, tapi mencari yang lebih tepat"
"You got what you need not what you want"
"Bukan mencari yg lebih baik, tapi mencari yang lebih tepat"
"You got what you need not what you want"
Berawal dari twit mayang ‘apa yang gue dapet di satu semester ini?’ dengan hashtag #refleksi. Seketika muncul potongan potongan adegan semacam cuplikan berhamburan di kepala gue, jadi flashback. Gue aja masih heran kalo sekarang udah 18 tahun dan kuliah. Apa gak kecepetan nih? Kadang suka kangen seragam abu abu kalo liat gerombolan anak SMA pulang sekolah J
Satu semester udah gue lewatin? Gak kerasa banget. Banyak banget yang gue dapet. Gue selalu hapal tanggal 19 juli 2011 dimana saat itu pengumuman simak UI dan gue keterima di Ilmu administrasi Fiskal regular. Bahkan sekarang aja gue bisa netesin air mata kalo inget betapa terharunya gue saat itu dan inget perjuangan keras untuk ngedapetin itu. Gue dulu pernah berdoa ‘semoga apa yang kupilih dapat kugenggam’ dan Allah sungguh Maha mendengar, melihat dan mengetahui. God proves it. Gue juga inget banget saat 3 agustus 2011 saat daftar ulang pertama kali di UI. Saat itu gue sama nyokap bergandengan tangan menyusuri jalan ke ppmt, dan sepertinya saat itu nyokap gue adalah ibu yang paling bahagia di dunia.
Ada 3 jenis ospek : univ, fakultas dan jurusan. Ketiganya gue lewatin dengan baik, walaupun ada dikit bolosnya. Semuanya nguras tenaga dan uang (untung bukan nguras bak). Apa yang bikin gue dan ribuan maba lainnya bertahan? Gue rasa jawabannya euphoria dan rasa syukur. Apasih susahnya ospek dibanding anugerah loe keterima di uinversitas terbaik di Indonesia dengan jurusan yang memang pilihan loe (cie). Gue selalu ngucapin kalimat itu dalam hati, biar gue semangat. Banyak kenangan lucu juga kok di ospek ;p
Bagaimana gue bertahan? Gue bertahan dengan tertatih menjalani dunia perkuliahan. Gaya mengajar beberapa dosen yang abstrak, tugas yang gak berperikemahasiswaan, materi kuliah yang sulit dimengerti (padahal kan wanita ingin dimengerti). Puncaknya adalah ketika UAS Akun. Persiapan belajar akun udah mati-matian banget eh gue mati beneran pas uasnya. Segala macem cara belajar dari belajar sendirian sampe belajar bareng di warteg, sia-sia. Punya impian bisa cumlaude, tapi kayaknya IP diatas 3 aja udah sujud syukur.
Berawal ditolak pargita hingga diterima CEDS. Paragita itu paduan suara UI, CEDS itu UKM kewirausahaan. Jadi seolah olah gue banting stir nih dari penyanyi jadi wirausaha -,- CEDS itu sesuatu banget kok, 3x penyaringan gue lolos muehehe (minyak goreng 7x penyaringan ya). Gue pengennya sih ntar bisa kerja di departemen keuangan trus sekaligus jadi entrepreneur juga (amin).
Semuanya gue jalanin ‘let it flow aja’ dan gue merasa grateful setiap harinya. Makasih Ya Allah J
Ini bagian yang dari tadi gue tunggu-tunggu : FRIENDS.
“gue kira kita temen”
“Itu sih dulu” kata gue kalem
“sekarang apa dong?” dia kesel
“Sahabat” *senyum senyum cherrybelle*
Ahahahaha.
Gue dapet sahabat sahabat baru. Sahabat di FISKAL REGULER maupun di kosan. Makasih udah nemenin gue makan, blajar, main kartu, ngegalau (gabisa mention nama satu persatu). Makasih ya udah mengisi hari hari gue selama enam bulan ini. Rasanya pengen ngasih kalian gopek satu persatu (yagadong). Buat PESEG (peskal regular, hem maksa) : Mungkin kita ga semuanya deket, tapi gue sayang sama kalian semua. Kita masih punya 3.5 tahun lagi kok untuk saling mengenal dan mendekatkan diri hehe. Honestly dari klasifikasi kupu-kupu, kura-kura, kusem-kusem dan kunang-kunang, gue masuk ke kelompok terakhir. Gue kan kunang-kunang yang bercahaya :p
CINTA gimana tik?
Oh cinta masih nunggu rangga balik dari amrik. Itu mah AADC.
Lovelife? Cinta itu kayak lagu ‘kasih ibu’ deh : ‘hanya memberi tak harap kembali~’ isshh gacin binti galau.
HEHEHEHE
Gue mau berbagi kisah. Tak usah dipikirkan apa ini realita atau fiktif belaka. Ini adalah sebuah potongan adegan antara dua tokoh, bernama aku dan dia.
Aku berjalan setengah berlari menyusuri pantai dan seketika aku berhenti. Ada dia disana sedang duduk di atas pasir sendirian, bukan ramai-ramai seperti yang aku bayangkan. Aku sadar, ini telah direncanakan oleh sahabatku dan sahabatnya. Dari belakang, tampak rambut lembutnya tertiup angin, bahkan itu sudah bisa menghipnotisku. Aku menghampirinya perlahan dan menyunggikan senyum.
“hai, udah dari tadi?” bibirku tak bisa berhenti menyunggikan senyum.
“hai! setengah menit atau mungkin setengah jam, aku tak tahu. Mana yang lain? Tadi mereka menyuruhku kesini tapi sampai sekarang mereka belom datang” ia tersenyum.
“Mereka tak akan datang. Mereka ingin kita sendirian, ini telah diatur”
“oh” responnya singkat dengan nada pelan. Dia mengangguk dan masih mencerna kata-kataku tadi.
Jantungku berdegup kencang dan kuputuskan mengatakan semuanya dengan cepat, sebelum aku terpesona dengannya dan menyianyiakan kesempatan ini. “aku minta maaf atas semuanya” kutatap matahari yang sedang tenggelam dan aku berdoa semoga ini berjalan mulus.
“maaf? Bahkan kau tak pernah membuat ku kesal sedikit pun” suaranya yang halus hampir menghipnotisku.
“aku merasa kurang sopan padamu, aku menjauh, tidak seluwes dulu”
“benarkah? Aku tidak merasa begitu”
Padahal aku ingin kau merasa begitu “syukurlah” aku berbohong. “tahukah kamu mengapa aku begitu? Ada sesuatu yang membuat aku harus menjauh. Ada rasa takut” dan rasa cinta, aku menambahkan dalam hati.
“takut padaku? Apa aku terlihat seperti Hulk” dia bercanda.
Aku tak tertawa.
Aku memulai lagi “kamu tahu tentang cerita jatuh cinta diam-diam dan jatuh cinta sendirian? Aku tidak ingin seperti itu. Aku takut menyesal dalam kebisuan”
“terkadang jujur itu lebih baik dari pada diam. Walaupun terkadang menyakitkan” dia memberi penekanan pada kata terakhirnya.
“Boleh aku jujur? Aku siap sakit kok”
“aku menghargaimu, aku janji tak akan membuatmu merasa tersakiti”
“Ini sebuah pernyataan ya, bukan pertanyaan” aku mulai sesak “Aku…mencintaimu”
Aku tak yakin apa sekarang aku masih hidup atau mati. Sepertinya jantungku telah berhenti.
Terasa keheningan sangat lama. Tanpa menolehnya, aku tahu dia juga sedang memandang laut.
“Itu bukan pertanyaan, hanya pernyataan. Kau tak perlu menjawab iya atau tidak, aku bukan bertanya. Aku tahu posisiku sebagai wanita” aku memecah keheningan.
“terima kasih. Itu sangat indah, sungguh” matanya tampak berbinar. “Kini aku yang bertanya, maukah kau mencoba?”
Mungkin inikah namanya ketiban duren? Perumpaan yang kurang bagus sepertinya, baiklah diakah surga itu?
“bolehkah aku menjawab iya?” aku tersedak.
“sangat boleh” jawabnya mantap. “terimakasih. Kini kau tidak lagi jatuh cinta diam-diam ataupun sendirian” senyum terindah yang pernah kulihat dari bibirnya.
Kami merebahkan badan di atas pasir dengan sama-sama menatap bulan.
“ustadz solmet atau ustad maulana?” dia bercanda.
“mama Dedehh” jawabku mantap
Kami berdua tertawa. Pembicaraan mengalir begitu saja dengan indah. Ditemani temaram bulan dan diiring deburan ombak, aku berharap matahari tidak akan terbit sehingga menghentikan kami. Aku bersumpah ini malam yang paling indah.