Waktu berlari begitu cepat,
sedangkan cinta hanya berjalan di tempat. Cinta ditinggal oleh waktu. Belum
sempat menerbitkan tulisan mengenai rasa yang satu itu atau pernak perniknya
yang hingga bisa menciptakan semburat merah di pipi, namun terlambat. Terlambat.
Pernah mendengar seorang teman
berkata “cinta tidak pernah happy ending” membuat gue mencerna sebentar, lalu dilanjutkan “cinta
yang sesungguhnya ga punya ending”
hmm.
Berarti kalo ada cinta yang sudah
berakhir, bukan cinta sesungguhnya? Hmm lagi.
Actually I don’t know what love is. Gue taunya cuma sayang. Tau
dari mana tik kalo punya rasa sayang? Mungkin dari rindu. “Tidak perlu lama,
saat punggungnya menjauh, rasa rindu telah menyentuh-nyentuh”. Gue lebih suka
paka kata ‘kangen’ sebenarnya. “Kangen itu cambuk-cambuk kecil yang menuntut
pertemuan”
“….dan sampai sekarang rindu itu
masih menyentuh-nyentuh dan cambuk kecil itu mencambukiku semakin keras…”
Mengenai hidup, hidup itu pilihan
kan. Ya atau Tidak? Matahari yang menghangatkan atau hujan yang menyejukkan? Pilihan
itu kadang kadang sulit menyulitkan. Kedua duanya kadang sama sama menyenangkan
atau malah keduanya menyakitkan. Coba baca kata terakhirnya agak dikasih
tekanan ;p
Sekarang lagi coba tegas pada
pilihan yang telah dibuat. Hitam atau putih bukan mengenai prinsip, tapi
keabuabuan memang patut dihindari karena beresiko tinggi loh kayak makanan
berkolesterol. Oke ini mulai ngga lucu.
“sayang ternyata ga cukup
diantara dua orang yang saling menyayangi” dan dua orang bodoh itu masih belum
menemukan jawaban ‘karena’ dari pertanyaan ‘mengapa’
“cinta itu rumit, tapi denganmu
bisa lebih sederhana karena aku mencintaimu dengan sederhana dan kesederhanaan
adalah kebersamaan kita” gue tambahin ‘”jika dengan nahkoda yang tepat” bukan
supir angkot. :)
Kalo kata radityadika di MSS
mengenai ‘kepindahan’ pindah itu proses. Tempat yang lama mungkin memang
terlalu sempit, jadi harus pindah ke tempat baru. Rasa ini terlalu luas untuk
hati yang terlalu sempit.
“Menghapus memori satu persatu
agar tidak ada rasa yang tertinggal” tapi setidaknya scar ini adalah pengingat bahwa kita pernah bahagia.
Andai kau tanya mengapa, dengan
senang hati aku menjabarkan alasannya. Tapi jangan tanya bagaimana, karena kau
nahkodanya. Kini kita punya dua nahkoda.
Aku nahkoda diriku sendiri, kau pun begitu.
Ketika semua membaik, kau memulai
lagi membuka luka lama yang indah tapi tetap menyakitkan.
Ngomong apa sih tik? Random
things in my heart and brain :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar