Sabtu, 14 Januari 2012

Sebuah kisah dimulai

Gue mau berbagi kisah. Tak usah dipikirkan apa ini realita atau fiktif belaka. Ini adalah sebuah potongan adegan antara dua tokoh, bernama aku dan dia.

Aku berjalan setengah berlari menyusuri pantai dan seketika aku berhenti. Ada dia disana sedang duduk di atas pasir sendirian, bukan ramai-ramai seperti yang aku bayangkan. Aku sadar, ini telah direncanakan oleh sahabatku dan sahabatnya. Dari belakang, tampak rambut lembutnya tertiup angin, bahkan itu sudah bisa menghipnotisku. Aku menghampirinya perlahan dan menyunggikan senyum.

“hai, udah dari tadi?” bibirku tak bisa berhenti menyunggikan senyum.

“hai! setengah menit atau mungkin setengah jam, aku tak tahu. Mana yang lain? Tadi mereka menyuruhku kesini tapi sampai sekarang mereka belom datang” ia tersenyum.

“Mereka tak akan datang. Mereka ingin kita sendirian, ini telah diatur”

“oh” responnya singkat dengan nada pelan. Dia mengangguk dan masih mencerna kata-kataku tadi.

Jantungku berdegup kencang dan kuputuskan mengatakan semuanya dengan cepat, sebelum aku terpesona dengannya dan menyianyiakan kesempatan ini. “aku minta maaf atas semuanya” kutatap matahari yang sedang tenggelam dan aku berdoa semoga ini berjalan mulus.

“maaf? Bahkan kau tak pernah membuat ku kesal sedikit pun” suaranya yang halus hampir menghipnotisku.

“aku merasa kurang sopan padamu, aku menjauh, tidak seluwes dulu”

“benarkah? Aku tidak merasa begitu”

Padahal aku ingin kau merasa begitu “syukurlah” aku berbohong. “tahukah kamu mengapa aku begitu? Ada sesuatu yang membuat aku harus menjauh. Ada rasa takut” dan rasa cinta, aku menambahkan dalam hati.

“takut padaku? Apa aku terlihat seperti Hulk” dia bercanda.

Aku tak tertawa.

Aku memulai lagi “kamu tahu tentang cerita jatuh cinta diam-diam dan jatuh cinta sendirian? Aku tidak ingin seperti itu. Aku takut menyesal dalam kebisuan”

“terkadang jujur itu lebih baik dari pada diam. Walaupun terkadang menyakitkan” dia memberi penekanan pada kata terakhirnya.

“Boleh aku jujur? Aku siap sakit kok”

“aku menghargaimu, aku janji tak akan membuatmu merasa tersakiti”

“Ini sebuah pernyataan ya, bukan pertanyaan” aku mulai sesak “Aku…mencintaimu”

Aku tak yakin apa sekarang aku masih hidup atau mati. Sepertinya jantungku telah berhenti.

Terasa keheningan sangat lama. Tanpa menolehnya, aku tahu dia juga sedang memandang laut.

“Itu bukan pertanyaan, hanya pernyataan. Kau tak perlu menjawab iya atau tidak, aku bukan bertanya. Aku tahu posisiku sebagai wanita” aku memecah keheningan.

“terima kasih. Itu sangat indah, sungguh” matanya tampak berbinar. “Kini aku yang bertanya, maukah kau mencoba?”

Mungkin inikah namanya ketiban duren? Perumpaan yang kurang bagus sepertinya, baiklah diakah surga itu?

“bolehkah aku menjawab iya?” aku tersedak.

“sangat boleh” jawabnya mantap. “terimakasih. Kini kau tidak lagi jatuh cinta diam-diam ataupun sendirian” senyum terindah yang pernah kulihat dari bibirnya.

Kami merebahkan badan di atas pasir dengan sama-sama menatap bulan.

“ustadz solmet atau ustad maulana?” dia bercanda.

“mama Dedehh” jawabku mantap

Kami berdua tertawa. Pembicaraan mengalir begitu saja dengan indah. Ditemani temaram bulan dan diiring deburan ombak, aku berharap matahari tidak akan terbit sehingga menghentikan kami. Aku bersumpah ini malam yang paling indah.


2 komentar:

rahma mengatakan...

INI APAAAAAAA???????

tikatik mengatakan...

ini tulisan lah haha. kenapa???