Kamis, 07 Maret 2013

Anggun dan Raja


Tak ada lagi tugas yang menuntut untuk dikerjakan, tak ada juga tontonan yang lebih layak untuk disaksikan di televisi, yang ada hanyalah pemain lakon yang menangis cengeng memelas cinta. Hei tunggu dulu, aku tidak seperti itu kan?

Apa yang harus kulakukan untuk membunuh waktu yang seakan mengejek karena aku hanya berdiam diri di malam minggu ini? Tidak, aku tidak bisa pergi ke mal hanya untuk menyaksikan pasangan2 itu memamerkan gandengan tangannya.  Jadilah aku disini, didalam kamar, berpegang pada ponsel dengan namanya dilayar.  Dia yang selalu berwujud di benakku dan namanya yang memenuhi kepalaku, Raja.

“halo bidadari manis yang paling sabar sejagat raya. Aku tebak senyummu tidak sedang merekah”

“Mengapa kau sebut aku manis? Memangnya kau ingat bagaimana rupaku setelah lama tidak bertemu. Mungkin perempuan manis yang kamu maksud itu teman sekampus kamu. Kenapa kamu bilang aku sabar? Tidakah kamu tau aku sedang ingin meronta?”

 “Sebentar Anggun, beri aku waktu untuk tersenyum”

Aku kesal padanya yang selalu berkilah “terserah”

“Bidadari, mustahil aku melupakan rupamu. Lekuk wajahmu adalah ingatan ketika ku membuka dan menutup mata. Senyummu membuat jantungku berdetak lebih dari biasanya. Mendengar namamu seakan ada yang memanggil namaku sendiri”

Aku kesal karena lagi lagi aku berhasil tergoda. “Baiklah, aku akan tersenyum, sedikit”

“Jika ingin meronta, silahkan. Jika tali yang melilitmu sudah terlepas, akan langsung kutangkap kamu dan kupeluk erat”

“kehadiranmu adalah mimpiku saat ini” Mataku beralih ke jendela kamar yang memperlihatkan hujan

“Keberadaanmu di dunia adalah suatu kebetulan yang indah”

“Tapi kehadiranmu masih tetap dalam mimpiku, dan aku belum terbangun dari itu”

“Aku akan segera membangunkanmu dan meneriakan kehadiranku”

“Menunggu kehadiranmu seperti mencoba membunuh waktu”

“Melihat kesabaranmu adalah semangat yang memburuku untuk segera pulang. Pulang ke tempat hati ini seharusnya segera berlabuh”

“Senyumku sudah merekah lagi, asal kamu tau, huh!” Aku menyerah untuk menahan senyum, meski dia juga tidak bisa melihat senyumku ini.

“Aku memang begitu, ada untuk membuatmu tersenyum. Sedangkan kamu ada untuk membuat ku tetap hidup”

“Aku bukan alasan untuk kau tetap hidup, jangan mengagungkan aku berlebihan”

“Kalau begitu, kamu adalah alasan yang membuatku merasa hidup dan merasa ada. Kamu adalah penyeimbang hidup, pengisi setiap celah kosong dalam hidupku, kamu yang membuat gravitasi bumi menjadi nol dan kadang membuatku bisa tetap menginjakan kaki di bumi dan alasan mengapa senyum ini terus merekah”

Aku merasa bergetar dan tiba-tiba hangat seakan ada yang memelukku “kata-kata mu amat hangat ketika aku kedinginan, namun kerinduanku bertalu-talu mencambukiku menuntut pertemuan”

“Seribu ucapan maafku tak akan cukup menggambarkan rasa bersalahku padamu. Biar setiap tetes hujan malam ini membisikan kata maaf di telingamu. Dan sebagai balasan darimu, aku siap menerima petir sebagai teriakan kemarahanmu.”

“Aku tidak marah, aku hanya menahan rindu”

“Tetesan hujan yang lain membisikan rindu di telingamu, itu titipan dariku”

“Angin dingin itu sekuat rinduku dan rasa cinta kepadamu”

“Kata itu, cinta. Itu membuatku bergetar. Terima kasih sudah ada di duniaku. Andai aku bisa membunuh waktu dan jarak, aku akan segera mendarat disampingmu”

“Ketika kau mendarat, akan ktangkap dan kudekap. Biarlah matamu sekarang terpejam, dan kita bertemu di mimpi. Akan kudekap kau disana”

“Selamat malam bidadari ku, semoga hujan malam ini menyanyikan lullaby untukmu”

Selesai, dan aku berhasil menghabiskan sabtu malam ini dengan menumpahruahkan rindu yang telah berkecamuk. Malam ini aku tertidur dengan tersenyum.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Raja dan Anggun, 

Tidak ada komentar: