Tak ada lagi tugas yang menuntut untuk dikerjakan, tak ada
juga tontonan yang lebih layak untuk disaksikan di televisi, yang ada hanyalah
pemain lakon yang menangis cengeng memelas cinta. Hei tunggu dulu, aku tidak
seperti itu kan?
Apa yang harus kulakukan untuk membunuh waktu yang seakan
mengejek karena aku hanya berdiam diri di malam minggu ini? Tidak, aku tidak
bisa pergi ke mal hanya untuk menyaksikan pasangan2 itu memamerkan gandengan
tangannya. Jadilah aku disini, didalam kamar, berpegang
pada ponsel dengan namanya dilayar. Dia
yang selalu berwujud di benakku dan namanya yang memenuhi kepalaku, Raja.
“halo bidadari manis yang paling sabar sejagat raya. Aku
tebak senyummu tidak sedang merekah”
“Mengapa kau sebut aku manis? Memangnya kau ingat bagaimana
rupaku setelah lama tidak bertemu. Mungkin perempuan manis yang kamu maksud itu
teman sekampus kamu. Kenapa kamu bilang aku sabar? Tidakah kamu tau aku sedang
ingin meronta?”
“Sebentar Anggun, beri aku
waktu untuk tersenyum”
Aku kesal padanya yang selalu berkilah “terserah”
“Bidadari, mustahil aku melupakan rupamu. Lekuk wajahmu
adalah ingatan ketika ku membuka dan menutup mata. Senyummu membuat jantungku
berdetak lebih dari biasanya. Mendengar namamu seakan ada yang memanggil namaku
sendiri”
Aku kesal karena lagi lagi aku berhasil tergoda. “Baiklah, aku akan tersenyum, sedikit”
“Jika ingin meronta, silahkan. Jika tali yang melilitmu
sudah terlepas, akan langsung kutangkap kamu dan kupeluk erat”
“kehadiranmu adalah mimpiku saat ini” Mataku beralih ke jendela kamar yang memperlihatkan hujan
“Keberadaanmu di dunia adalah suatu kebetulan yang indah”
“Tapi kehadiranmu masih tetap dalam mimpiku, dan aku belum
terbangun dari itu”
“Aku akan segera membangunkanmu dan meneriakan kehadiranku”
“Menunggu kehadiranmu seperti mencoba membunuh waktu”
“Melihat kesabaranmu adalah semangat yang memburuku untuk
segera pulang. Pulang ke tempat hati ini seharusnya segera berlabuh”
“Senyumku sudah merekah lagi, asal kamu tau, huh!” Aku menyerah untuk menahan senyum, meski dia juga tidak bisa melihat senyumku ini.
“Aku memang begitu, ada untuk membuatmu tersenyum. Sedangkan
kamu ada untuk membuat ku tetap hidup”
“Aku bukan alasan untuk kau tetap hidup, jangan mengagungkan
aku berlebihan”
“Kalau begitu, kamu adalah alasan yang membuatku merasa
hidup dan merasa ada. Kamu adalah penyeimbang hidup, pengisi setiap celah
kosong dalam hidupku, kamu yang membuat gravitasi bumi menjadi nol dan kadang
membuatku bisa tetap menginjakan kaki di bumi dan alasan mengapa senyum ini
terus merekah”
Aku merasa bergetar dan tiba-tiba hangat seakan ada yang memelukku “kata-kata mu amat hangat ketika aku kedinginan, namun
kerinduanku bertalu-talu mencambukiku menuntut pertemuan”
“Seribu ucapan maafku tak akan cukup menggambarkan rasa
bersalahku padamu. Biar setiap tetes hujan malam ini membisikan kata maaf di
telingamu. Dan sebagai balasan darimu, aku siap menerima petir sebagai teriakan
kemarahanmu.”
“Aku tidak marah, aku hanya menahan rindu”
“Tetesan hujan yang lain membisikan rindu di telingamu, itu
titipan dariku”
“Angin dingin itu sekuat rinduku dan rasa cinta kepadamu”
“Kata itu, cinta. Itu membuatku bergetar. Terima kasih sudah
ada di duniaku. Andai aku bisa membunuh waktu dan jarak, aku akan segera
mendarat disampingmu”
“Ketika kau mendarat, akan ktangkap dan kudekap. Biarlah
matamu sekarang terpejam, dan kita bertemu di mimpi. Akan kudekap kau disana”
“Selamat malam bidadari ku, semoga hujan malam ini
menyanyikan lullaby untukmu”
Selesai, dan aku berhasil menghabiskan sabtu malam ini
dengan menumpahruahkan rindu yang telah berkecamuk. Malam ini aku tertidur
dengan tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar