Jumat, 06 Juli 2012

Unposted Post

Waktu berlari begitu cepat, sedangkan cinta hanya berjalan di tempat. Cinta ditinggal oleh waktu. Belum sempat menerbitkan tulisan mengenai rasa yang satu itu atau pernak perniknya yang hingga bisa menciptakan semburat merah di pipi, namun terlambat. Terlambat. 

Pernah mendengar seorang teman berkata “cinta tidak  pernah happy ending” membuat  gue mencerna sebentar, lalu dilanjutkan “cinta yang sesungguhnya ga punya ending” hmm.
Berarti kalo ada cinta yang sudah berakhir, bukan cinta sesungguhnya? Hmm lagi.

Actually I don’t know what love is. Gue taunya cuma sayang. Tau dari mana tik kalo punya rasa sayang? Mungkin dari rindu. “Tidak perlu lama, saat punggungnya menjauh, rasa rindu telah menyentuh-nyentuh”. Gue lebih suka paka kata ‘kangen’ sebenarnya. “Kangen itu cambuk-cambuk kecil yang menuntut pertemuan”

“….dan sampai sekarang rindu itu masih menyentuh-nyentuh dan cambuk kecil itu mencambukiku semakin keras…”

Mengenai hidup, hidup itu pilihan kan. Ya atau Tidak? Matahari yang menghangatkan atau hujan yang menyejukkan? Pilihan itu kadang kadang sulit menyulitkan. Kedua duanya kadang sama sama menyenangkan atau malah keduanya menyakitkan. Coba baca kata terakhirnya agak dikasih tekanan ;p

Sekarang lagi coba tegas pada pilihan yang telah dibuat. Hitam atau putih bukan mengenai prinsip, tapi keabuabuan memang patut dihindari karena beresiko tinggi loh kayak makanan berkolesterol. Oke ini mulai ngga lucu.

“sayang ternyata ga cukup diantara dua orang yang saling menyayangi” dan dua orang bodoh itu masih belum menemukan jawaban ‘karena’ dari pertanyaan ‘mengapa’
“cinta itu rumit, tapi denganmu bisa lebih sederhana karena aku mencintaimu dengan sederhana dan kesederhanaan adalah kebersamaan kita” gue tambahin ‘”jika dengan nahkoda yang tepat” bukan supir angkot. :)

Kalo kata radityadika di MSS mengenai ‘kepindahan’ pindah itu proses. Tempat yang lama mungkin memang terlalu sempit, jadi harus pindah ke tempat baru. Rasa ini terlalu luas untuk hati yang terlalu sempit.

“Menghapus memori satu persatu agar tidak ada rasa yang tertinggal” tapi setidaknya scar ini adalah pengingat bahwa kita pernah bahagia.
Andai kau tanya mengapa, dengan senang hati aku menjabarkan alasannya. Tapi jangan tanya bagaimana, karena kau nahkodanya. Kini kita  punya dua nahkoda. Aku nahkoda diriku sendiri, kau pun begitu.

Ketika semua membaik, kau memulai lagi membuka luka lama yang indah tapi tetap menyakitkan.

Ngomong apa sih tik? Random things in my heart  and brain :)