Senin, 10 November 2014

Diary Natya di Negeri Kincir Angin : Bertalu-talu.

       Kupeluk ransel ini dengan erat karena ransel ini cukup besar di pangkuanku saat duduk di kereta. Kereta ini cukup ramai untuk ukuran waktu menjelang malam minggu. Pukul 5 sore aku masih terduduk di kursi biru dalam kereta dari amsterdam centraal menuju Kromenie. Pemandangan di jendela sudah tidak semenarik dulu, ketika aku pertama kali datang kesini, Belanda. Meskipun demikian, tetap saja aku akan selalu melihat pemandangan melalui jendela lagi dan lagi. Beberapa gedung tinggi yang aku kenali sebagai salah satu dari perusahaan internasional yang aku idamkan sebagai kantor masa depan hingga pemandangan pohon-pohon ‘ek yang berbau tidak sedap adalah pemandangan yang selalu mengikutiku saat aku pulang.

      Dalam lamunanku yang begitu panjang, aku sadar betapa segalanya bahagia ketika aku datang kesini. Aku ingat dihari pertamaku mendarat di Schipol, salah satu bandar udara terbesar dan terbaik di dunia. Aku merasa mendarat di surga­­­—tidak terlalu berlebihan, oh tapi tentu saja wajahku belum pantas jadi bidadari. Saat itu rasanya aku ingin menelfon orang tuaku agar memasang papan reklame yang besar di Jakarta di daerah Sudirman yang bertuliskan ‘Natya is in Netherlands now. Spread the info’! Lihat, bagaimana aku merasa menjadi orang paling beruntung sedunia bisa berada di tanah penjajah ini.

      Lamunan itu berjalan lagi ke momen ketika aku dengan histeris melihat kincir-kincir angin raksasa di Zaanseschans. Angin laut dan baunya yang khas tidak bisa menyembunyikan senyumku yang terlukis lebar. Entahlah segalanya, kebun tulip, museum patung lilin, tatanan kota, wisata air tengah kota, puluhan museum, segalanya bagiku disini adalah keajaiban dunia. Aku mungkin bisa menambah 10 keajaiban dunia, jika sebelumnya hanya tujuh.

       Perjalanan panjang dari amsterdam centraal ke stasiun terdekat dari rumahku memang sangat lama. Meskipun kereta ini cepat tapi jarak memang cukup berarti. Tinggal di desa, mungkin itu yang bisa kupersamakan dengan Indonesia. Aku tidak punya masalah dengan kilometer yang harus kutempuh, belasan jam yang harus kuhabiskan di depan laptop setiap harinya, dan adaptasi cepat bagai bunglon yang harus ku kuasai. Aku bisa bertahan karena keinginan yang  begitu membuncah untuk datang kesini. Bagaimana membendung air bervolume besar? Seberapa besar dan kuat bendungan yang orang tuaku miliki? Itulah aku yang merengek kepada orang tua agar memberi izin dan mencari segala cara agar bisa belajar demi gelar S2 disini. Apa orang tuaku cukup kaya untuk itu? Jika iya, tentu aku tidak perlu berusaha sekeras itu. Aku percaya satu hal yaitu keberuntungan.
Keberuntungan memang ada namun ia hanya datang sekali-sekali.
Saat itu waktu yang tepat.
Saat dia datang, aku jemput dengan baik.
Tentunya ia datang berkat kasih sayang Tuhan.

      Ah aku tersadar sedang senyum-senyum sendiri. Dua remaja yang duduk di kursi sebelah sepertinya membicarakanku  yang terlihat hampir gila karena senyum sendirian ini. Apa aku mengerti bahasa mereka? Bahasa belanda tidak sesulit bahasa mandarin, korea atau jepang dengan huruf keriting mereka. Setidaknya bahasa belanda masih ditulis dengan huruf latin. Tentunya aku pernah belajar bahasa belanda kilat—demi keselamatanku disini. Di awal aku belajar satu kalimat yang kuingat adalah Ik weet niet meer van je, aku tidak mencintaimu lagi. Sempurna.   
Aku tidak ambil pusing dengan tatapan remaja itu, kepalaku kini sedang sibuk melamun, lebih sibuk dibanding pemerintah Belanda di Den Haag. Lamunanku tiba-tiba membuatku berhenti tersenyum ketika berhenti di memori akan rumah. Jika segalanya dapat kuatasi, ada satu hal yang tak dapat kubendung, rindu. Rindu ini mencambukku seperti drum yang ditabuh bertalu-talu. Rindu ini semakin kuat manakala aku sang pengembara ini merayakan 6 bulan kesendirianku tanpa rumah yang sebenarnya di tanah air. Rumah bagiku adalah dimana mereka berada, orang-orang yang kusayang. Atau mungkin orang yang pernah kusayang. Kursi di kereta ini ada dua-dua dan saling berhadapan. Akan sangat indah kalau dia ada disini di kursi yang dihadapanku, melihat pemandangan yang sama.

    Asal kalian tau, daya ingatku amat lemah, bahkan aku mencatat segala hal untuk mengatasi kelemahanku yang satu ini. Tapi bagaimana bisa, aku tidak bisa lupa dengannya. Aku ingat betul bagaimana wajahnya saat tertawa, bagaimana kami melakukan ritual piknik setiap minggu pagi, bagaimana ketika aku membaca puisi dan dia membuat lagu dari puisi itu. Oh bahkan aku ingat urat-urat yang menonjol di tangannya. Cukup bodoh bukan? Ingatan ini seharusnya sudah hilang untuk sesuatu yang telah aku lepaskan.

     Lamunanku terhenti ketika kereta tiba di tujuan. Kereta telah sampai di Kromenie Aschendlaft, stasiun terdekat dengan rumah orang tua angkatku disini. Pilihan selanjutnya adalah naik bus atau berjalan kaki. Demi menghemat 4 EUR kupilih mengajak kakiku bekerja keras, berjalan kaki dengan rute yang amat panjang hingga ke rumah. Suhu udara, 11 derajat celsius berhasil menahan keringat—tentu saja cukup dingin sehingga oke oke saja kan kalau aku berjalan kaki untuk jarak jauh.

      Rumah ini setidaknya dapat mengobati kesendirianku di akhir pekan akibat rutinitas belajar dari senin hingga jumat di flatku di Leiden. Meski aku punya beberapa teman di Leiden, yang bisa mendengar cerita-cerita bodohku dan bisa membuatku terhormat dipercaya mendengar cerita-cerita unik mereka, namun akhir pekan adalah hari keluarga. Berada di keluarga orang tua angkatku juga cukup membuatku merasa aman dan nyaman di negeri asing ini. Keberuntungan masih menaungiku hingga bisa dipertemukan dengan orang-orang baik. 

      Langkahku semakin cepat dibawah langit yang menunjukan senja. Lagi, pertanyaan muncul dalam benakku. Bagaimana langit dijakarta? Apa seindah ini juga? Apa dia sudah makan disana? Kekhawatiranku akan dia tentu saja tidak beralasan.
Untuk apa khawatir jika kita masih berada di bawah langit yang sama.
Lagi lagi aku memikirkan sesuatu yang bukan milikku, kamu.