Rabu, 05 Februari 2014

Jika Sang Waktu Berlari



Aku ingin sedikit bercerita. Dari awal ini aku akan beri tahu kalian, kalau cerita kali ini sangat membosankan. Jadi jangan salahkan aku atau menilai buruk aku di akhir cerita. Sudah tutup blogku ini. Buka blog orang lain yang lebih menginspirasi atau sana lanjut membaca kicauan mantan mu di twitter hingga berpuluh puluh halaman atau terus update status, lokasi, serta foto yang menunjukan seberapa eksis kamu di dunia maya (jika itu hobimu).
 
Baiklah saya lanjut bercerita. Siang di sebuah toko Laundry beruansa putih dengan pintu hijau, aku dengan cantiknya duduk bercinta dengan laptop. Menjaga toko menurutku tidak produktif, maka dari itu disinilah aku dengan laptop. Paling tidak berkutat dengan Microsoft Word dapat membuatku terlihat produktif, meski agak membohongi diri sendiri.  Aku yang duduk dengan sok sibuk, masih kalah sibuk dengan orang yang disebelahku. Wanita berumur tiga puluhan yang sedari pagi dengan cekatan menyetrika baju-baju pelanggan, tanpa minum tanpa makan. Kedengarannya seperti aku pemilik toko yang kejam ya. Bukan, bukan begitu. Dia sesekali minum tapi tidak makan. Uang makannya disimpan, makan di rumah mungkin lebih murah.

Rumah serta toko yang terletak di pinggir jalan raya, membuat telingaku sudah akrab dengan suara bising motor dan mobil yang melaju seolah ada malaikat maut yang mengejar-ngejar mereka. Jika tidak sedang bising, biar kutebak, berarti mereka akan menyemut disana terperangkap macet. Aku juga sadar bahwa setiap ku berjalan kaki, langkahku besar-besar, tempo-nya terasa cepat. Banyak yang bilang “Jalan loe cepet banget” bukan hanya dua-tiga orang yang bilang begitu. Aku rasa bukan cuma aku, tapi banyak juga orang lain yang berjalan begitu cepat. Berjalan dengan kaki mereka, atau diatas roda dua atau empat.

Mengapa mereka, kita begitu cepat?
Apa yang mereka kejar?
Ataukah mereka sedang dikejar?

Satu bulan yang lalu aku merayakan ulang tahun yang ke dua puluh. Ucapan banyak yang berdatangan. Aku menebak, ada yang sangat tulus mendoakan dan bergembira, ada yang menganggap itu sebuah kewajiban rutin setiap tahun mengucapkan kepada yang ulang tahun, atau hanya kebetulan tau dan tidak enak jika tidak mengucapkan. Aku tak tau siapa yang masuk golongan mana. Aku juga tidak memusingkannya. Sebuah cupcake diberi lilin saja sudah membuat bahagia, juga ucapan di pukul 00.00 serta makan-makan sederhana, apalagi diberi hadiah oleh keluarga. Betapa bahagia itu sangat sederhana. Kembali lagi ke ucapan. Ada yang mengucap “Selamat berkurangnya sisa umur” hah!! Sedikit menyebalkan membaca ucapan yang beda dari yang lain satu ini. Sebenarnya sih dia tidak salah, iya dia tidak salah.

Kadang aku merasa waktu begitu cepat bergulir. Aku saja masih tidak merasa seperti berusia dua puluh. Walau aku sudah berjalan cepat, tapi aku kalah. Sang Waktu berlari cepat, sedangkan aku berjalan. Aku kalah dengan waktu. Maka aku tidak boleh hanya berdiam diri, jika tidak ingin ‘dimakan’ waktu. 

Di tahun 2013 lalu, aku ke Purwokerto dan Bengkulu. Tidak hanya atmosphere, pemandangan, dan individu yang bebeda, tapi juga irama kehidupan yang berbeda. Aku merasa tempo yang lebih lambat, hidup mengalun bagaikan legato disana. Tidak dikejar atau mengejar sesuatu. Bekerja keras itu pasti, tapi mereka seperti bisa selalu bernapas. Berbeda dengan di Jakarta yang selalu seperti dikejar-kejar, “jika terlambat, maka rusak semuanya”. Napasku seperti staccato dengan dentuman yang forte. Mungkin itulah sebab mengapa ada yang bilang, hidup di pedesaan akan membuat panjang umur dibanding tinggal di kota.

Aku menghargai sang waktu, untuk itu aku tak akan menyia-nyiakannya. Menghabiskan waktu dengan orang yang salah dan tidak harga menghargaimu adalah perbuatan sia. Evaluate people in your life. Demote, promote or terminate them. You are CEO in your life.

Jika Sang Waktu berlari, maka aku juga akan berlari sekencang kencangya.