Aku ingin sedikit bercerita. Dari
awal ini aku akan beri tahu kalian, kalau cerita kali ini sangat membosankan.
Jadi jangan salahkan aku atau menilai buruk aku di akhir cerita. Sudah tutup
blogku ini. Buka blog orang lain yang lebih menginspirasi atau sana lanjut
membaca kicauan mantan mu di twitter hingga berpuluh puluh halaman atau terus
update status, lokasi, serta foto yang menunjukan seberapa eksis kamu di dunia
maya (jika itu hobimu).
Baiklah saya lanjut bercerita. Siang
di sebuah toko Laundry beruansa putih dengan pintu hijau, aku dengan cantiknya
duduk bercinta dengan laptop. Menjaga toko menurutku tidak produktif, maka dari
itu disinilah aku dengan laptop. Paling tidak berkutat dengan Microsoft Word
dapat membuatku terlihat produktif, meski agak membohongi diri sendiri. Aku yang duduk dengan sok sibuk, masih kalah
sibuk dengan orang yang disebelahku. Wanita berumur tiga puluhan yang sedari
pagi dengan cekatan menyetrika baju-baju pelanggan, tanpa minum tanpa makan.
Kedengarannya seperti aku pemilik toko yang kejam ya. Bukan, bukan begitu. Dia
sesekali minum tapi tidak makan. Uang makannya disimpan, makan di rumah mungkin
lebih murah.
Rumah serta toko yang terletak di
pinggir jalan raya, membuat telingaku sudah akrab dengan suara bising motor dan
mobil yang melaju seolah ada malaikat maut yang mengejar-ngejar mereka. Jika
tidak sedang bising, biar kutebak, berarti mereka akan menyemut disana
terperangkap macet. Aku juga sadar bahwa setiap ku berjalan kaki, langkahku
besar-besar, tempo-nya terasa cepat. Banyak yang bilang “Jalan loe cepet
banget” bukan hanya dua-tiga orang yang bilang begitu. Aku rasa bukan cuma aku,
tapi banyak juga orang lain yang berjalan begitu cepat. Berjalan dengan kaki
mereka, atau diatas roda dua atau empat.
Mengapa mereka, kita begitu cepat?
Apa yang mereka kejar?
Ataukah mereka sedang dikejar?
Satu bulan yang lalu aku
merayakan ulang tahun yang ke dua puluh. Ucapan banyak yang berdatangan. Aku
menebak, ada yang sangat tulus mendoakan dan bergembira, ada yang menganggap itu
sebuah kewajiban rutin setiap tahun mengucapkan kepada yang ulang tahun, atau
hanya kebetulan tau dan tidak enak jika tidak mengucapkan. Aku tak tau siapa
yang masuk golongan mana. Aku juga tidak memusingkannya. Sebuah cupcake diberi lilin saja sudah membuat
bahagia, juga ucapan di pukul 00.00 serta makan-makan sederhana, apalagi diberi
hadiah oleh keluarga. Betapa bahagia itu sangat sederhana. Kembali lagi ke
ucapan. Ada yang mengucap “Selamat berkurangnya sisa umur” hah!! Sedikit menyebalkan
membaca ucapan yang beda dari yang lain satu ini. Sebenarnya sih dia tidak
salah, iya dia tidak salah.
Kadang aku merasa waktu begitu
cepat bergulir. Aku saja masih tidak merasa seperti berusia dua puluh. Walau
aku sudah berjalan cepat, tapi aku kalah. Sang Waktu berlari cepat, sedangkan
aku berjalan. Aku kalah dengan waktu. Maka aku tidak boleh hanya berdiam diri,
jika tidak ingin ‘dimakan’ waktu.
Di tahun 2013 lalu, aku ke
Purwokerto dan Bengkulu. Tidak hanya atmosphere, pemandangan, dan individu yang
bebeda, tapi juga irama kehidupan yang berbeda. Aku merasa tempo yang lebih
lambat, hidup mengalun bagaikan legato disana. Tidak dikejar atau mengejar
sesuatu. Bekerja keras itu pasti, tapi mereka seperti bisa selalu bernapas.
Berbeda dengan di Jakarta yang selalu seperti dikejar-kejar, “jika terlambat,
maka rusak semuanya”. Napasku seperti staccato
dengan dentuman yang forte. Mungkin
itulah sebab mengapa ada yang bilang, hidup di pedesaan akan membuat panjang
umur dibanding tinggal di kota.
Aku menghargai sang waktu, untuk
itu aku tak akan menyia-nyiakannya. Menghabiskan waktu dengan orang yang salah
dan tidak harga menghargaimu adalah perbuatan sia. Evaluate people in your
life. Demote, promote or terminate them. You are CEO in your life.
Jika Sang Waktu berlari, maka aku juga akan berlari sekencang kencangya.