Kupeluk ransel ini dengan erat karena
ransel ini cukup besar di pangkuanku saat duduk di kereta. Kereta ini cukup
ramai untuk ukuran waktu menjelang malam minggu. Pukul 5 sore aku masih
terduduk di kursi biru dalam kereta dari amsterdam centraal menuju Kromenie.
Pemandangan di jendela sudah tidak semenarik dulu, ketika aku pertama kali
datang kesini, Belanda. Meskipun demikian, tetap saja aku akan selalu melihat
pemandangan melalui jendela lagi dan lagi. Beberapa gedung tinggi yang aku
kenali sebagai salah satu dari perusahaan internasional yang aku idamkan
sebagai kantor masa depan hingga pemandangan pohon-pohon ‘ek yang berbau tidak
sedap adalah pemandangan yang selalu mengikutiku saat aku pulang.
Dalam lamunanku yang begitu panjang,
aku sadar betapa segalanya bahagia ketika aku datang kesini. Aku ingat dihari
pertamaku mendarat di Schipol, salah satu bandar udara terbesar dan terbaik di
dunia. Aku merasa mendarat di surga—tidak terlalu berlebihan, oh tapi tentu
saja wajahku belum pantas jadi bidadari. Saat itu rasanya aku ingin menelfon
orang tuaku agar memasang papan reklame yang besar di Jakarta di daerah
Sudirman yang bertuliskan ‘Natya is in Netherlands now. Spread the info’!
Lihat, bagaimana aku merasa menjadi orang paling beruntung sedunia bisa berada
di tanah penjajah ini.
Lamunan itu berjalan lagi ke momen ketika
aku dengan histeris melihat kincir-kincir angin raksasa di Zaanseschans. Angin
laut dan baunya yang khas tidak bisa menyembunyikan senyumku yang terlukis
lebar. Entahlah segalanya, kebun tulip, museum patung lilin, tatanan kota, wisata
air tengah kota, puluhan museum, segalanya bagiku disini adalah keajaiban
dunia. Aku mungkin bisa menambah 10 keajaiban dunia, jika sebelumnya hanya
tujuh.
Perjalanan panjang dari amsterdam
centraal ke stasiun terdekat dari rumahku memang sangat lama. Meskipun kereta
ini cepat tapi jarak memang cukup berarti. Tinggal di desa, mungkin itu yang
bisa kupersamakan dengan Indonesia. Aku tidak punya masalah dengan kilometer
yang harus kutempuh, belasan jam yang harus kuhabiskan di depan laptop setiap
harinya, dan adaptasi cepat bagai bunglon yang harus ku kuasai. Aku bisa
bertahan karena keinginan yang begitu
membuncah untuk datang kesini. Bagaimana membendung air bervolume besar?
Seberapa besar dan kuat bendungan yang orang tuaku miliki? Itulah aku yang
merengek kepada orang tua agar memberi izin dan mencari segala cara agar bisa
belajar demi gelar S2 disini. Apa orang tuaku cukup kaya untuk itu? Jika iya,
tentu aku tidak perlu berusaha sekeras itu. Aku percaya satu hal yaitu
keberuntungan.
Keberuntungan memang ada namun ia hanya datang sekali-sekali.
Saat itu waktu yang tepat.
Saat dia datang, aku jemput dengan baik.
Tentunya ia datang berkat kasih sayang Tuhan.
Ah aku tersadar
sedang senyum-senyum sendiri. Dua remaja yang duduk di kursi sebelah sepertinya
membicarakanku yang terlihat hampir gila
karena senyum sendirian ini. Apa aku mengerti bahasa mereka? Bahasa belanda
tidak sesulit bahasa mandarin, korea atau jepang dengan huruf keriting mereka.
Setidaknya bahasa belanda masih ditulis dengan huruf latin. Tentunya aku pernah
belajar bahasa belanda kilat—demi keselamatanku disini. Di awal aku belajar
satu kalimat yang kuingat adalah Ik weet niet meer van je, aku tidak mencintaimu lagi.
Sempurna.
Aku tidak ambil
pusing dengan tatapan remaja itu, kepalaku kini sedang sibuk melamun, lebih
sibuk dibanding pemerintah Belanda di Den Haag. Lamunanku tiba-tiba membuatku
berhenti tersenyum ketika berhenti di memori akan rumah. Jika segalanya dapat
kuatasi, ada satu hal yang tak dapat kubendung, rindu. Rindu ini mencambukku
seperti drum yang ditabuh bertalu-talu. Rindu ini semakin kuat manakala aku
sang pengembara ini merayakan 6 bulan kesendirianku tanpa rumah yang sebenarnya
di tanah air. Rumah bagiku adalah dimana mereka berada, orang-orang yang
kusayang. Atau mungkin orang yang pernah kusayang. Kursi di kereta ini ada
dua-dua dan saling berhadapan. Akan sangat indah kalau dia ada disini di kursi yang dihadapanku, melihat pemandangan yang
sama.
Asal kalian tau, daya
ingatku amat lemah, bahkan aku mencatat segala hal untuk mengatasi kelemahanku
yang satu ini. Tapi bagaimana bisa, aku tidak bisa lupa dengannya. Aku ingat
betul bagaimana wajahnya saat tertawa, bagaimana kami melakukan ritual piknik
setiap minggu pagi, bagaimana ketika aku membaca puisi dan dia membuat lagu
dari puisi itu. Oh bahkan aku ingat urat-urat yang menonjol di tangannya. Cukup
bodoh bukan? Ingatan ini seharusnya sudah hilang untuk sesuatu yang telah aku
lepaskan.
Lamunanku terhenti
ketika kereta tiba di tujuan. Kereta telah sampai di Kromenie Aschendlaft,
stasiun terdekat dengan rumah orang tua angkatku disini. Pilihan selanjutnya
adalah naik bus atau berjalan kaki. Demi menghemat 4 EUR kupilih mengajak
kakiku bekerja keras, berjalan kaki dengan rute yang amat panjang hingga ke
rumah. Suhu udara, 11 derajat celsius berhasil menahan keringat—tentu saja
cukup dingin sehingga oke oke saja kan kalau aku berjalan kaki untuk jarak
jauh.
Rumah ini
setidaknya dapat mengobati kesendirianku di akhir pekan akibat rutinitas belajar
dari senin hingga jumat di flatku di Leiden. Meski aku punya beberapa teman di
Leiden, yang bisa mendengar cerita-cerita bodohku dan bisa membuatku terhormat
dipercaya mendengar cerita-cerita unik mereka, namun akhir pekan adalah hari
keluarga. Berada di keluarga orang tua angkatku juga cukup membuatku merasa
aman dan nyaman di negeri asing ini. Keberuntungan masih menaungiku hingga bisa
dipertemukan dengan orang-orang baik.
Langkahku semakin
cepat dibawah langit yang menunjukan senja. Lagi, pertanyaan muncul dalam
benakku. Bagaimana langit dijakarta? Apa seindah ini juga? Apa dia sudah makan
disana? Kekhawatiranku akan dia tentu saja tidak beralasan.
Untuk apa khawatir
jika kita masih berada di bawah langit yang sama.
Lagi lagi aku
memikirkan sesuatu yang bukan milikku, kamu.