Ribuan kali aku berkata 'nanti' padahal aku takut belum sempat kutepati sebelum mati. Selalu ada saja alasan untuk menunda hingga sebuah kicauan di twitter benar-benar menyambar
Akankah hijab pertama dan terakhirmu adalah kain kafan yang membungkusmu?
Itu benar dan sungguh membuatku tersadar. Tidak, ini bukan sebuah tulisan yang menakuti atau menekan. Memang sesungguhnya kita tau bukan bahwa ini sebuah kewajiban? Sudah tau sejaak dulu sekali bahwa perempuan harus menutup auratnya.
Sesungguhnya kita tau, namun pura-pura tidak tau.
Pernah dengar kisah tentang seorang gadis yang sangat solehah namun belum menutup aurat?
Ia adalah seorang gadis solehah yang sangat santun dan beriman. Orang-orang disekitarnya selalu menanyakan mengapa keimanannya belum disempurnakan dengan menutup aurat. Ia selalu menjawab, bahwa ia ingin menghijabkan dulu hatinya baru kemudian raganya.
Hingga pada suatu malam ia bermimpi berada di pintu surga bersama para wanita. Kemudian pintu surga dibuka dan wanita-wanita itu berlarian menuju pintu. Sang wanita solehah berlari namun tertatih karena tak sampai-sampai menuju pintu tersebut. Hingga akhirnya pintu itu sebentar lagi ditutup. Ia pun bertanya pada penjaga pintu surga, mengapa ia tidak bisa mencapai pintu surga seperti wanita lainnya. Malaikat penjaga pintu surga pun bertanya "coba perhatikan apa perbedaanmu dengan wanita-wanita itu?"
Sang wanita solehah menemukan perbedaannya, bahwa wanita lain itu berhijab, menutup aurat. Tanpa mendengar jawaban dari wanita solehah, malaikat berkata "Katamu kamu ingin menghijabkan hatimu, maka biarkanlah hatimu saja yang memasuki surga, namun tidak dengan ragamu"
Setelah terbangun dari mimpi, sang wanita solehah menangis tiada henti dan mulai menyempurkan imannya dengan menutup aurat.
*) cerita mungkin bisa berbeda dengan yang asli
Kita selalu berkata 'belum siap', 'ingin memperbaiki hati dulu', 'ingin memperbaiki ibadah dulu'. Kapan dirimu benar-benar siap? Bagaimana jika ajal menjemput karena kita memang tidak pernah siap.
Lagi lagi aku katakan tulisan ini bukan untuk menekan atau menakuti. Aku hanya ingin kita merenung. Mengapa wanita harus berhijab? Jawabannya adalah satu, karena perintah Allah.
Allah berfirman demikian dalam Al-Quran. Entah harus bagaimana lagi aku mengelak dan pura-pura tidak tau, ataukah aku harus menutup telinga terus?Wanita yang tidak menutupi auratnya tidak akan pernah mencium bau surga
Bagaimana jika pertanyaan tadi diulang. Mengapa wanita harus berhijab? Karena itu perintah Allah. Dengar, bukankah seharusnya kita patuh dan menerima apa yang Allah perintahkan tanpa banyak bertanya ini-itu. Tapi tidak seperti itu, Allah memberi perintah karena itu memang yang baik untuk kita (wanita).
Aku merasa lebih aman dan nyaman. Ketika pulang malam, bukan aku tiba2 menjadi sok nekat, tapi orang pinggir jalan terlihat segan dan tidak ada bunyi siulan iseng. Mengerti kan maksudku? coba ada perempuan memakai rok pendek berada di posisiku. Mungkin mendapat perlakuan yang tidak semestinya.
Dan dengan pakaian ini aku merasa malu jika ibadahku bolong-bolong. Ternyata ibadah mengalir mengikuti iman yang terpatri dalam raga, ibadah menjadi semakin baik, Insya Allah dirdhai Allah.
Kita tidak perlu menunggu hidayah datang, tapi kita harus mencari hidayah itu.
Menunggu hingga siap adalah membuang waktu, ajal pun menjemput tanpa bertanya kita siap atau tidak.
Aku bukan orang suci dengan ibadah sempurna. Aku adalah manusia yang paling buruk yang sedang berbenah diri. Berbenah diri untuk Allah, mencoba setulus itu. Karena dalam hidup kita selalu belajar, gagal, jatuh, bangkit, belajar lagi kemudian berhasil. Kita tidak tau betapa bahagianya berhasil, kalau belum pernah gagal. Semoga dengan berbenah dan menjadi pribadi yang lebih baik, akan dikelilingi dan dipasangkan dengan orang yang baik.
Sebenarnya aku takut membuat tulisan ini, aku takut salah, aku takut sok suci. Tapi aku lebih takut jika tidak berbagi atas apa yang aku tahu. Aku ingin wanita membuka telinga, mata dan hati. Mau mendengar, melihat dan berhenti berpura-pura tidak tau.
Subhanallah, Ramadhan ini berbeda. Semoga tidak hanya selama ramadan kita menjadi baik.
Subhanallah, Ramadhan ini berbeda. Semoga tidak hanya selama ramadan kita menjadi baik.
-Tika, pelajar universitas yang sedang belajar bagaimana belajar-
