Waktu itu gue lagi bosen gara gara nganggur di rumah, call me pengangguran T-T. Bokap gue nyuruh gue baca buku filsafat “Dunia Sophie”. Gue kan males baca buku begituan. Bokap ngerayu dan bilang “ini buku lama best seller loh, sekarang aja dicetak ulang, pasti temen tika gak ada yang tau”. Dengan rayuan cemen seperti itu gue bisa tergoda, terus ngambil buku itu *berbinar-binar*
Kalo gue bilang buku itu adalah buku pelajaran terselubung. (Maksudnya apa tik? Apa?? Iya iya sabar ya pembaca setiaku :*). Jadi kayak lo belajar buku paket biologi dengan tipuan package novel. Iya emang ada jalan cerita, tapi lo kayak lagi belajar.
Satu hal yang bikin gue penasaran adalah apasih filsafat itu? Secara, itu kan jurusan yang diambil dian sastro (terus kenapah??)
Hal yang bisa gue simpulin dari beberapa halaman yang gue baca adalah:
Filsafat itu ilmu berlatarbelakang rasa ingin tahu. Jadi kayaknya filosof itu banyak nanya #eh. Dimulai dengan pertanyaan mendasar ’Siapakah diri kita?’ ’Mengapa kita hidup dan bagaimana seharusnya kita hidup?’
Banyak orang termasuk gue sering merasa hidup stagnan. Rutinitas yang bikin jemu. Tapi bagi filosof TIDAK! (bay) mereka selalu menemukan hal-hal baru untuk dipertanyakan. Jadi kalo dimisalkan filosof itu anak-anak, sedangkan orang biasa adalah orang dewasa. Anak anak yang selalu excited menemukan sesuatu yang baru, karena mereka baru mengenal dunia. Misalnya saat pertama kali mereka melihat pesawat terbang, mereka akan senang sekaligus bingung meihat benda terbang. Sedangkan bagi orang dewasa melihat pesawat adalah hal biasa. Filosof selalu excited bukan karena baru mengenal dunia, tapi karena mereka mendalami dunia dan kehidupan. Orang non filosof Mereka mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam menatap kehidupan
Kalo diibaratkan dunia ini bulu kelinci, orang-orang non filosof ada dibalik bulu kelinci yang lebat dan hangat—comfort zone mereka. Sedangkan filosof berani beranjak ke ujung bulu—keluar dari comfort zone dan berani menatap dunia. Non filosof menerima apa adanya kehidupan, tanpa bertanya mengapa begini-mengapa begitu. Mereka menganggap hidup hanyalah kebiasaan. Tapi filosof memikirkan itu. Jadi ada 2 pilihan : stay di comfort zone atau menembus batas. O.O
Kalo gue pribadi, gue akan stay di comfort zone ini. Masih banyak hal yang harus dipikirin lebih dari sekedar filosofi. Gue mikirin cicilan kompor, panci, mikirin anak-anak—” HEM. Tapi pengen juga sih sekali kali ikut diskusi filosof-filosof. Menarik :’’) Ada yang mau ngajak? Dian sastro mau ngajak aku gak ya? -__-
Yo yo yo sekian ya mata kuliah -,- dari gue