Jumat, 20 Maret 2015

Sebuah Petunjuk

“Ma, Tatya tunggu sini ya”

Aku menunggu mama dan papa mengantri panjang untuk bersalaman dengan kedua mempelai itu di pelaminan. Pelaminan yang indah dengan tema international wedding. Dekorasi dengan dominasi warna putih emas terlihat mewah dengan bunga mawar putih dimana-mana. Aku baca lagi undangannya Ratna & Galih. Oh Tuhan apa ini nama panggung mereka—seperti nama artis yang diganti agar terdengar lebih beken. Maksudku apa itu kebetulan jika pasangan itu bernama Ratna & Galih?
          
 
Aku beralih ke pudding cokelat menggiurkan di meja ini. Ada dua hal yang menyenangkan datang ke pesta pernikahan, 1) Makanan, 2) Aku bisa berdandan cantik. Kapan lagi aku bisa berdandan menor pada tempatnya, dengan dress biru muda selutut dan high heels. Pernah kupakai eyeliner pertama kalinya ke kampus, dan ada yang mengomentari seolah-olah dandan itu tabu. Oh astaga hanya eyeliner, bagaimana jika ku pakai bulu mata palsu?
     
Kupandangi antrian mama dan papa yang hanya bergerak sedikit. Aku kemudian terpikir apa mungkin aku bisa bertemu sesorang yang ku kenal disini. Ya aku tau yang menikah adalah anak teman papa yang akupun tidak kenal. Tapi mengingat mempelai itu seusiaku, ada kemungkinan kan aku bertemu teman yang ku kenal disini. Mubazir sekali aku sudah secantik ini—dalam versiku, dan tidak ada yang melihat.

“Cokelat atau pink?” sebuah suara memecah lamunanku.

“permisi?” aku memastikan jika pria itu benar-benar bertanya kepadaku.

"Lebih enak yang stroberi atau cokelat? Puddingnya” Pria berkaca mata, kurus, kira-kira 2cm lebih tinggi dari aku dan heelsku, ternyata benar bertanya kepadaku.

“Saya lebih suka yang cokelat, tapi mungkin selera kita beda” Aku rasa tuxedo hitam-nya membuatnya terlihat lebih tua. Tapi rambut gondrong yang dikuncir membuatnya terlihat, entahlah.

"Selera?” Pria itu kemudian mengambil satu potong pudding cokelat dan stroberi lalu menyiramnya dengan fla.

"Kurasa selera kita sama” ia menyunggingkan senyum.


Hmm ada lima
         
“Apanya yang ada lima?”
         
“Jerawatmu” kataku tanpa berfikir.
         
"hahaha maaf soal itu, itu sedikit menggangguku” katanya terbahak meski ia bilang              terganggu.
           
Aku terkejut karena terlambat kusadari, aku tidak mengucapkan ‘ada lima’ dengan mulutku.
         
"Maaf aku tidak bermaksud—tapi bagimana bisa tadi aku tidak…”
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, dia memotong “Kamu lihat pasangan yang disebelah sana. Mereka terlihat canggung. Apa mereka benar pasangan?”
         
Otomatis aku melihat ke arah yang ditunjuk si pria asing ini “Pria dan wanita datang ke pernikahan belum tentu pasangan. Kecuali mereka duduk di pelaminan itu, baru aku yakin mereka pasangan kekasih”
       
“Hahaha tepat  sekali. Si wanita baru beberapa kali jalan dengan pria itu. Mereka baru saja kenal. Karena datang sendiri ke pesta pernikahan membuatnya tidak percaya diri, jadi dia mengajak wanita  yang baru saja ia kenal” dia tersenyum lagi. “Mungkin” iya menambahkan.

“hah?” aku tidak mengerti apa yang dipikirkan orang ini.
       
“Iya pemikiran. Kau liat anak yang disebelah sana. Dia tidak makan dari pagi, demi makan sepuasnya disini. Dia tau mau makan enak” ucapnya sambil tersenyum lagi. Wajahnya yang ramah membuatku enggan mengabaikannya.
       
“hahaha aku yakin pipinya akan semakin chubby dan beratnya naik 2kg hari ini” aku betulan tertawa melihat anak kecil  yang ditunjuk pria ini. Pipi pink anak itu benar-benar menggemaskan.
     
“Aku punya pemikiran lain. Sepertinya ‘mbak’ lelah. Bukan hanya lelah karena memakai heels, tapi lelah mencari. Seperti pencarian tidak berujung. Kemudian ‘mbak’ punya hobi bernyanyi. Bersenandung untuk Tuhan setiap malam, tapi bedanya tanpa lelah” Ia mengatakannya dengan menekankan pada kata mbak. Kali ini mukanya datar.
       
“Anda siapa?” aku bingung bukan kepalang.
       
 “Langkah yang bagus untuk mengajak kenalan. Saya Sandro” ia berkata dengan memasang wajah jail. Aku bingung raut wajahnya mudah sekali berubah.
     
"Saya Tatya. Maksud saya siapa anda? Kenapa bisa ‘membaca’ saya seperti itu?”
       
“Nama yang manis untuk orang yang baik. Oke Tatya, kamu punya 3 pilihan. Siapa saya? A) guru fisika, b) agen CIA c) pengrajin kayu “
       
“Maaf Sandro, tapi anda cukup berbelit-belit untuk menjadi guru fisika. Kemudian, saya belum pernah melihat agen CIA yang jerawatan. Dan tangan anda terlalu halus untuk ukuran pengrajin kayu.
         
“hahahaha. Menarik. Sungguh menarik” kemudian dia melirik jam tangan miliknya.

Rolex? Itu asli apa KW?
           
"Maaf mbak, maksud saya Nona Tatya, saya harus pergi dulu. Teruslah mencari, jangan menyerah. Jika lelah, maka istirahatlah sejenak, kemudian lanjutkan kembali. Nyanyian nona untuk Tuhan sungguh sangat merdu. Tuhan pasti jatuh cinta pada nona, apalagi manusia. Ini sebagai permohonan maaf karena membuat nona bingung” ia menyerahkan kartu namanya kepadaku. “Oh iya ini rolex asli, saya tidak pernah beli KW”. Dengan tersenyum jahil ia berlalu di hadapanku.
           
Aku mematung. Aku mencerna satu persatu kalimatnya. Pencarian apa? Nyanyian ku untuk Tuhan? Aku tidak mengucapkan apapun soal Rolex, sama seperti tadi aku tidak menyebut jumlah jerawatnya. Lalu, dia ‘membaca’ diriku. Dia juga ‘membaca’ tamu undangan disini. Ada yang aneh dengannya, dia seperti membaca pikiran atau semacam—tak lama mama dan papa datang menghampiriku.
         
“Papa rasa membuat pesta dua jam itu tidak cukup. Tamu undangan tertumpuk di jam yang sama. Antrian tadi benar-benar panjang.” Papa menggelengkan kepala. “Apa itu di tangan kamu Tatya?”
         
Aku melirik apa yang kupegang. Kartu nama Sandro.

Sandro Sadirman
+62
“Jika ingin bertanya, maka tanyakan.
Jika ingin memberi tau maka nyatakan.
Hidup terlalu singkat
 untuk menumpuk rasa penasaran”

Kartu nama macam apa yang hanya terdiri dari nama dan quotes seperti itu. Tidak ada pekerjaan ataupun contact yang bisa dihubungi. Contact +62 ? What on earth! Tanpa sengaja ku balik kartu nama itu. Dalam sekejap aku merinding.


Sebuah Petunjuk.

Senin, 10 November 2014

Diary Natya di Negeri Kincir Angin : Bertalu-talu.

       Kupeluk ransel ini dengan erat karena ransel ini cukup besar di pangkuanku saat duduk di kereta. Kereta ini cukup ramai untuk ukuran waktu menjelang malam minggu. Pukul 5 sore aku masih terduduk di kursi biru dalam kereta dari amsterdam centraal menuju Kromenie. Pemandangan di jendela sudah tidak semenarik dulu, ketika aku pertama kali datang kesini, Belanda. Meskipun demikian, tetap saja aku akan selalu melihat pemandangan melalui jendela lagi dan lagi. Beberapa gedung tinggi yang aku kenali sebagai salah satu dari perusahaan internasional yang aku idamkan sebagai kantor masa depan hingga pemandangan pohon-pohon ‘ek yang berbau tidak sedap adalah pemandangan yang selalu mengikutiku saat aku pulang.

      Dalam lamunanku yang begitu panjang, aku sadar betapa segalanya bahagia ketika aku datang kesini. Aku ingat dihari pertamaku mendarat di Schipol, salah satu bandar udara terbesar dan terbaik di dunia. Aku merasa mendarat di surga­­­—tidak terlalu berlebihan, oh tapi tentu saja wajahku belum pantas jadi bidadari. Saat itu rasanya aku ingin menelfon orang tuaku agar memasang papan reklame yang besar di Jakarta di daerah Sudirman yang bertuliskan ‘Natya is in Netherlands now. Spread the info’! Lihat, bagaimana aku merasa menjadi orang paling beruntung sedunia bisa berada di tanah penjajah ini.

      Lamunan itu berjalan lagi ke momen ketika aku dengan histeris melihat kincir-kincir angin raksasa di Zaanseschans. Angin laut dan baunya yang khas tidak bisa menyembunyikan senyumku yang terlukis lebar. Entahlah segalanya, kebun tulip, museum patung lilin, tatanan kota, wisata air tengah kota, puluhan museum, segalanya bagiku disini adalah keajaiban dunia. Aku mungkin bisa menambah 10 keajaiban dunia, jika sebelumnya hanya tujuh.

       Perjalanan panjang dari amsterdam centraal ke stasiun terdekat dari rumahku memang sangat lama. Meskipun kereta ini cepat tapi jarak memang cukup berarti. Tinggal di desa, mungkin itu yang bisa kupersamakan dengan Indonesia. Aku tidak punya masalah dengan kilometer yang harus kutempuh, belasan jam yang harus kuhabiskan di depan laptop setiap harinya, dan adaptasi cepat bagai bunglon yang harus ku kuasai. Aku bisa bertahan karena keinginan yang  begitu membuncah untuk datang kesini. Bagaimana membendung air bervolume besar? Seberapa besar dan kuat bendungan yang orang tuaku miliki? Itulah aku yang merengek kepada orang tua agar memberi izin dan mencari segala cara agar bisa belajar demi gelar S2 disini. Apa orang tuaku cukup kaya untuk itu? Jika iya, tentu aku tidak perlu berusaha sekeras itu. Aku percaya satu hal yaitu keberuntungan.
Keberuntungan memang ada namun ia hanya datang sekali-sekali.
Saat itu waktu yang tepat.
Saat dia datang, aku jemput dengan baik.
Tentunya ia datang berkat kasih sayang Tuhan.

      Ah aku tersadar sedang senyum-senyum sendiri. Dua remaja yang duduk di kursi sebelah sepertinya membicarakanku  yang terlihat hampir gila karena senyum sendirian ini. Apa aku mengerti bahasa mereka? Bahasa belanda tidak sesulit bahasa mandarin, korea atau jepang dengan huruf keriting mereka. Setidaknya bahasa belanda masih ditulis dengan huruf latin. Tentunya aku pernah belajar bahasa belanda kilat—demi keselamatanku disini. Di awal aku belajar satu kalimat yang kuingat adalah Ik weet niet meer van je, aku tidak mencintaimu lagi. Sempurna.   
Aku tidak ambil pusing dengan tatapan remaja itu, kepalaku kini sedang sibuk melamun, lebih sibuk dibanding pemerintah Belanda di Den Haag. Lamunanku tiba-tiba membuatku berhenti tersenyum ketika berhenti di memori akan rumah. Jika segalanya dapat kuatasi, ada satu hal yang tak dapat kubendung, rindu. Rindu ini mencambukku seperti drum yang ditabuh bertalu-talu. Rindu ini semakin kuat manakala aku sang pengembara ini merayakan 6 bulan kesendirianku tanpa rumah yang sebenarnya di tanah air. Rumah bagiku adalah dimana mereka berada, orang-orang yang kusayang. Atau mungkin orang yang pernah kusayang. Kursi di kereta ini ada dua-dua dan saling berhadapan. Akan sangat indah kalau dia ada disini di kursi yang dihadapanku, melihat pemandangan yang sama.

    Asal kalian tau, daya ingatku amat lemah, bahkan aku mencatat segala hal untuk mengatasi kelemahanku yang satu ini. Tapi bagaimana bisa, aku tidak bisa lupa dengannya. Aku ingat betul bagaimana wajahnya saat tertawa, bagaimana kami melakukan ritual piknik setiap minggu pagi, bagaimana ketika aku membaca puisi dan dia membuat lagu dari puisi itu. Oh bahkan aku ingat urat-urat yang menonjol di tangannya. Cukup bodoh bukan? Ingatan ini seharusnya sudah hilang untuk sesuatu yang telah aku lepaskan.

     Lamunanku terhenti ketika kereta tiba di tujuan. Kereta telah sampai di Kromenie Aschendlaft, stasiun terdekat dengan rumah orang tua angkatku disini. Pilihan selanjutnya adalah naik bus atau berjalan kaki. Demi menghemat 4 EUR kupilih mengajak kakiku bekerja keras, berjalan kaki dengan rute yang amat panjang hingga ke rumah. Suhu udara, 11 derajat celsius berhasil menahan keringat—tentu saja cukup dingin sehingga oke oke saja kan kalau aku berjalan kaki untuk jarak jauh.

      Rumah ini setidaknya dapat mengobati kesendirianku di akhir pekan akibat rutinitas belajar dari senin hingga jumat di flatku di Leiden. Meski aku punya beberapa teman di Leiden, yang bisa mendengar cerita-cerita bodohku dan bisa membuatku terhormat dipercaya mendengar cerita-cerita unik mereka, namun akhir pekan adalah hari keluarga. Berada di keluarga orang tua angkatku juga cukup membuatku merasa aman dan nyaman di negeri asing ini. Keberuntungan masih menaungiku hingga bisa dipertemukan dengan orang-orang baik. 

      Langkahku semakin cepat dibawah langit yang menunjukan senja. Lagi, pertanyaan muncul dalam benakku. Bagaimana langit dijakarta? Apa seindah ini juga? Apa dia sudah makan disana? Kekhawatiranku akan dia tentu saja tidak beralasan.
Untuk apa khawatir jika kita masih berada di bawah langit yang sama.
Lagi lagi aku memikirkan sesuatu yang bukan milikku, kamu.


Rabu, 05 Februari 2014

Jika Sang Waktu Berlari



Aku ingin sedikit bercerita. Dari awal ini aku akan beri tahu kalian, kalau cerita kali ini sangat membosankan. Jadi jangan salahkan aku atau menilai buruk aku di akhir cerita. Sudah tutup blogku ini. Buka blog orang lain yang lebih menginspirasi atau sana lanjut membaca kicauan mantan mu di twitter hingga berpuluh puluh halaman atau terus update status, lokasi, serta foto yang menunjukan seberapa eksis kamu di dunia maya (jika itu hobimu).
 
Baiklah saya lanjut bercerita. Siang di sebuah toko Laundry beruansa putih dengan pintu hijau, aku dengan cantiknya duduk bercinta dengan laptop. Menjaga toko menurutku tidak produktif, maka dari itu disinilah aku dengan laptop. Paling tidak berkutat dengan Microsoft Word dapat membuatku terlihat produktif, meski agak membohongi diri sendiri.  Aku yang duduk dengan sok sibuk, masih kalah sibuk dengan orang yang disebelahku. Wanita berumur tiga puluhan yang sedari pagi dengan cekatan menyetrika baju-baju pelanggan, tanpa minum tanpa makan. Kedengarannya seperti aku pemilik toko yang kejam ya. Bukan, bukan begitu. Dia sesekali minum tapi tidak makan. Uang makannya disimpan, makan di rumah mungkin lebih murah.

Rumah serta toko yang terletak di pinggir jalan raya, membuat telingaku sudah akrab dengan suara bising motor dan mobil yang melaju seolah ada malaikat maut yang mengejar-ngejar mereka. Jika tidak sedang bising, biar kutebak, berarti mereka akan menyemut disana terperangkap macet. Aku juga sadar bahwa setiap ku berjalan kaki, langkahku besar-besar, tempo-nya terasa cepat. Banyak yang bilang “Jalan loe cepet banget” bukan hanya dua-tiga orang yang bilang begitu. Aku rasa bukan cuma aku, tapi banyak juga orang lain yang berjalan begitu cepat. Berjalan dengan kaki mereka, atau diatas roda dua atau empat.

Mengapa mereka, kita begitu cepat?
Apa yang mereka kejar?
Ataukah mereka sedang dikejar?

Satu bulan yang lalu aku merayakan ulang tahun yang ke dua puluh. Ucapan banyak yang berdatangan. Aku menebak, ada yang sangat tulus mendoakan dan bergembira, ada yang menganggap itu sebuah kewajiban rutin setiap tahun mengucapkan kepada yang ulang tahun, atau hanya kebetulan tau dan tidak enak jika tidak mengucapkan. Aku tak tau siapa yang masuk golongan mana. Aku juga tidak memusingkannya. Sebuah cupcake diberi lilin saja sudah membuat bahagia, juga ucapan di pukul 00.00 serta makan-makan sederhana, apalagi diberi hadiah oleh keluarga. Betapa bahagia itu sangat sederhana. Kembali lagi ke ucapan. Ada yang mengucap “Selamat berkurangnya sisa umur” hah!! Sedikit menyebalkan membaca ucapan yang beda dari yang lain satu ini. Sebenarnya sih dia tidak salah, iya dia tidak salah.

Kadang aku merasa waktu begitu cepat bergulir. Aku saja masih tidak merasa seperti berusia dua puluh. Walau aku sudah berjalan cepat, tapi aku kalah. Sang Waktu berlari cepat, sedangkan aku berjalan. Aku kalah dengan waktu. Maka aku tidak boleh hanya berdiam diri, jika tidak ingin ‘dimakan’ waktu. 

Di tahun 2013 lalu, aku ke Purwokerto dan Bengkulu. Tidak hanya atmosphere, pemandangan, dan individu yang bebeda, tapi juga irama kehidupan yang berbeda. Aku merasa tempo yang lebih lambat, hidup mengalun bagaikan legato disana. Tidak dikejar atau mengejar sesuatu. Bekerja keras itu pasti, tapi mereka seperti bisa selalu bernapas. Berbeda dengan di Jakarta yang selalu seperti dikejar-kejar, “jika terlambat, maka rusak semuanya”. Napasku seperti staccato dengan dentuman yang forte. Mungkin itulah sebab mengapa ada yang bilang, hidup di pedesaan akan membuat panjang umur dibanding tinggal di kota.

Aku menghargai sang waktu, untuk itu aku tak akan menyia-nyiakannya. Menghabiskan waktu dengan orang yang salah dan tidak harga menghargaimu adalah perbuatan sia. Evaluate people in your life. Demote, promote or terminate them. You are CEO in your life.

Jika Sang Waktu berlari, maka aku juga akan berlari sekencang kencangya.

Jumat, 18 Oktober 2013

Akhir

Aku mengerti mengapa kita dipertemukan kemudian dipisahkan. Karena Tuhan ingin menunjukan bahwa setiap awal memiliki akhir.

Memaafkan

Jika memaafkan butuh keikhlasan sedangkan meminta maaf butuh keberanian, maka memaafkan seratus kali lebih susah ketimbang meminta maaf.

Rindu Merindu

Entah sejak kapan aku merasa rindu merindumu.

Jumat, 26 Juli 2013

Menyempurnakan Iman

Setelah berulang-ulang mengucapkan 'nanti', akhirnya kini janji itu pun ku tepati.


Ribuan kali aku berkata 'nanti' padahal aku takut belum sempat kutepati sebelum mati. Selalu ada saja alasan untuk menunda hingga sebuah kicauan di twitter benar-benar menyambar 
Akankah hijab pertama dan terakhirmu adalah kain kafan yang membungkusmu?
Itu benar dan sungguh membuatku tersadar. Tidak, ini bukan sebuah tulisan yang menakuti atau menekan. Memang sesungguhnya kita  tau bukan bahwa ini sebuah kewajiban? Sudah tau sejaak dulu sekali bahwa perempuan harus menutup auratnya.
Sesungguhnya kita tau, namun pura-pura tidak tau.
Pernah dengar kisah tentang seorang gadis yang sangat solehah namun belum menutup aurat? 
Ia adalah seorang gadis solehah yang sangat santun dan beriman. Orang-orang disekitarnya selalu menanyakan mengapa keimanannya belum disempurnakan dengan menutup aurat. Ia selalu menjawab, bahwa ia ingin menghijabkan dulu hatinya baru kemudian raganya.
Hingga pada suatu malam ia bermimpi berada di pintu surga bersama para wanita. Kemudian pintu surga dibuka dan wanita-wanita itu berlarian menuju pintu. Sang wanita solehah berlari namun tertatih karena tak sampai-sampai menuju pintu tersebut. Hingga akhirnya pintu itu sebentar lagi ditutup. Ia pun bertanya pada penjaga pintu surga, mengapa ia tidak bisa mencapai pintu surga seperti wanita lainnya. Malaikat penjaga pintu surga pun bertanya "coba perhatikan apa perbedaanmu dengan wanita-wanita itu?" 
Sang wanita solehah menemukan perbedaannya, bahwa wanita lain itu berhijab, menutup aurat. Tanpa mendengar jawaban dari wanita solehah, malaikat berkata "Katamu kamu ingin menghijabkan hatimu, maka biarkanlah hatimu saja yang memasuki surga, namun tidak dengan ragamu"
Setelah terbangun dari mimpi, sang wanita solehah menangis tiada henti dan mulai menyempurkan imannya dengan menutup aurat.
*) cerita mungkin bisa berbeda dengan yang asli

 Kita selalu berkata 'belum siap', 'ingin memperbaiki hati dulu', 'ingin memperbaiki ibadah dulu'. Kapan dirimu benar-benar siap? Bagaimana jika ajal menjemput karena kita memang tidak pernah siap.

Lagi lagi aku katakan tulisan ini bukan untuk menekan atau menakuti. Aku hanya ingin kita merenung. Mengapa wanita harus berhijab? Jawabannya adalah satu, karena perintah Allah.

Wanita yang tidak menutupi auratnya tidak akan pernah mencium bau surga
Allah berfirman demikian dalam Al-Quran. Entah harus bagaimana lagi aku mengelak dan pura-pura tidak tau, ataukah aku harus menutup telinga terus?

Bagaimana jika pertanyaan tadi diulang. Mengapa wanita harus berhijab? Karena itu perintah Allah. Dengar, bukankah seharusnya kita patuh dan menerima apa yang Allah perintahkan tanpa banyak bertanya ini-itu. Tapi tidak seperti itu, Allah memberi perintah karena itu memang yang baik untuk kita (wanita). 

Aku merasa lebih aman dan nyaman. Ketika pulang malam, bukan aku tiba2 menjadi sok nekat, tapi orang pinggir jalan terlihat segan dan tidak ada bunyi siulan iseng. Mengerti kan maksudku? coba ada perempuan memakai rok pendek berada di posisiku. Mungkin mendapat perlakuan yang tidak semestinya.

Dan dengan pakaian ini aku merasa malu jika ibadahku bolong-bolong. Ternyata ibadah mengalir mengikuti iman yang terpatri dalam raga, ibadah menjadi semakin baik, Insya Allah dirdhai Allah.

Kita tidak perlu menunggu hidayah datang, tapi kita harus mencari hidayah itu. 
Menunggu hingga siap adalah membuang waktu, ajal pun menjemput tanpa bertanya kita siap atau tidak.

Aku bukan orang suci dengan ibadah sempurna. Aku adalah manusia yang paling buruk yang sedang berbenah diri. Berbenah diri untuk Allah, mencoba setulus itu. Karena dalam hidup kita selalu belajar, gagal, jatuh, bangkit, belajar lagi kemudian berhasil. Kita tidak tau betapa bahagianya berhasil, kalau belum pernah gagal. Semoga dengan berbenah dan menjadi pribadi yang lebih baik, akan dikelilingi dan dipasangkan dengan orang yang baik.

Sebenarnya aku takut membuat tulisan ini, aku takut salah, aku takut sok suci. Tapi aku lebih takut jika tidak berbagi atas apa yang aku tahu. Aku ingin wanita membuka telinga, mata dan hati. Mau mendengar, melihat dan berhenti berpura-pura tidak tau.

Subhanallah, Ramadhan ini berbeda. Semoga tidak hanya selama ramadan kita menjadi baik.
-Tika, pelajar universitas yang sedang belajar bagaimana belajar-