“Ma, Tatya tunggu sini ya”
Aku menunggu
mama dan papa mengantri panjang untuk bersalaman dengan kedua mempelai itu di
pelaminan. Pelaminan yang indah dengan tema international
wedding. Dekorasi dengan dominasi warna putih emas terlihat mewah dengan
bunga mawar putih dimana-mana. Aku baca lagi undangannya Ratna
& Galih. Oh
Tuhan apa ini nama panggung mereka—seperti nama artis yang diganti agar
terdengar lebih beken. Maksudku apa itu kebetulan jika pasangan itu bernama
Ratna & Galih?
Aku beralih ke pudding cokelat menggiurkan di meja ini. Ada dua hal yang menyenangkan datang ke pesta pernikahan, 1) Makanan, 2) Aku bisa berdandan cantik. Kapan lagi aku bisa berdandan menor pada tempatnya, dengan dress biru muda selutut dan high heels. Pernah kupakai eyeliner pertama kalinya ke kampus, dan ada yang mengomentari seolah-olah dandan itu tabu. Oh astaga hanya eyeliner, bagaimana jika ku pakai bulu mata palsu?
Kupandangi antrian mama dan papa yang hanya bergerak sedikit. Aku kemudian terpikir apa mungkin aku bisa bertemu sesorang yang ku kenal disini. Ya aku tau yang menikah adalah anak teman papa yang akupun tidak kenal. Tapi mengingat mempelai itu seusiaku, ada kemungkinan kan aku bertemu teman yang ku kenal disini. Mubazir sekali aku sudah secantik ini—dalam versiku, dan tidak ada yang melihat.
“Cokelat atau pink?” sebuah suara memecah lamunanku.
“permisi?”
aku memastikan jika pria itu benar-benar bertanya kepadaku.
"Lebih
enak yang stroberi atau cokelat? Puddingnya” Pria berkaca mata, kurus,
kira-kira 2cm lebih tinggi dari aku dan heelsku, ternyata benar bertanya
kepadaku.
“Saya lebih suka
yang cokelat, tapi mungkin selera kita beda” Aku rasa tuxedo hitam-nya
membuatnya terlihat lebih tua. Tapi rambut gondrong yang dikuncir membuatnya
terlihat, entahlah.
"Selera?”
Pria itu kemudian mengambil satu potong pudding cokelat dan stroberi lalu
menyiramnya dengan fla.
"Kurasa selera kita sama” ia menyunggingkan senyum.
"Kurasa selera kita sama” ia menyunggingkan senyum.
Hmm ada lima
“Apanya yang ada lima?”
“Jerawatmu” kataku tanpa berfikir.
"hahaha maaf soal itu, itu sedikit menggangguku” katanya terbahak meski ia bilang terganggu.
Aku terkejut karena terlambat kusadari, aku tidak mengucapkan ‘ada lima’ dengan mulutku.
"Maaf aku tidak bermaksud—tapi bagimana bisa tadi aku tidak…”
Sebelum aku
menyelesaikan kalimatku, dia memotong “Kamu lihat pasangan yang disebelah sana.
Mereka terlihat canggung. Apa mereka benar pasangan?”
Otomatis aku melihat ke arah yang ditunjuk si pria asing ini “Pria dan wanita datang ke pernikahan belum tentu pasangan. Kecuali mereka duduk di pelaminan itu, baru aku yakin mereka pasangan kekasih”
“Hahaha tepat sekali. Si wanita baru beberapa kali jalan dengan pria itu. Mereka baru saja kenal. Karena datang sendiri ke pesta pernikahan membuatnya tidak percaya diri, jadi dia mengajak wanita yang baru saja ia kenal” dia tersenyum lagi. “Mungkin” iya menambahkan.
“hah?” aku tidak mengerti apa yang dipikirkan orang ini.
“Iya pemikiran. Kau liat anak yang disebelah sana. Dia tidak makan dari pagi, demi makan sepuasnya disini. Dia tau mau makan enak” ucapnya sambil tersenyum lagi. Wajahnya yang ramah membuatku enggan mengabaikannya.
“hahaha aku yakin pipinya akan semakin chubby dan beratnya naik 2kg hari ini” aku betulan tertawa melihat anak kecil yang ditunjuk pria ini. Pipi pink anak itu benar-benar menggemaskan.
“Aku punya pemikiran lain. Sepertinya ‘mbak’ lelah. Bukan hanya lelah karena memakai heels, tapi lelah mencari. Seperti pencarian tidak berujung. Kemudian ‘mbak’ punya hobi bernyanyi. Bersenandung untuk Tuhan setiap malam, tapi bedanya tanpa lelah” Ia mengatakannya dengan menekankan pada kata mbak. Kali ini mukanya datar.
“Anda siapa?” aku bingung bukan kepalang.
“Langkah yang bagus untuk mengajak kenalan. Saya Sandro” ia berkata dengan memasang wajah jail. Aku bingung raut wajahnya mudah sekali berubah.
"Saya Tatya. Maksud saya siapa anda? Kenapa bisa ‘membaca’ saya seperti itu?”
“Nama yang manis untuk orang yang baik. Oke Tatya, kamu punya 3 pilihan. Siapa saya? A) guru fisika, b) agen CIA c) pengrajin kayu “
“Maaf Sandro, tapi anda cukup berbelit-belit untuk menjadi guru fisika. Kemudian, saya belum pernah melihat agen CIA yang jerawatan. Dan tangan anda terlalu halus untuk ukuran pengrajin kayu.
“hahahaha. Menarik. Sungguh menarik” kemudian dia melirik jam tangan miliknya.
Rolex? Itu asli apa KW?
"Maaf mbak, maksud saya Nona Tatya, saya harus pergi dulu. Teruslah mencari, jangan menyerah. Jika lelah, maka istirahatlah sejenak, kemudian lanjutkan kembali. Nyanyian nona untuk Tuhan sungguh sangat merdu. Tuhan pasti jatuh cinta pada nona, apalagi manusia. Ini sebagai permohonan maaf karena membuat nona bingung” ia menyerahkan kartu namanya kepadaku. “Oh iya ini rolex asli, saya tidak pernah beli KW”. Dengan tersenyum jahil ia berlalu di hadapanku.
Aku mematung. Aku mencerna satu persatu kalimatnya. Pencarian apa? Nyanyian ku untuk Tuhan? Aku tidak mengucapkan apapun soal Rolex, sama seperti tadi aku tidak menyebut jumlah jerawatnya. Lalu, dia ‘membaca’ diriku. Dia juga ‘membaca’ tamu undangan disini. Ada yang aneh dengannya, dia seperti membaca pikiran atau semacam—tak lama mama dan papa datang menghampiriku.
“Papa rasa membuat pesta dua jam itu tidak cukup. Tamu undangan tertumpuk di jam yang sama. Antrian tadi benar-benar panjang.” Papa menggelengkan kepala. “Apa itu di tangan kamu Tatya?”
Aku melirik apa yang kupegang. Kartu nama Sandro.
Sandro Sadirman
+62
“Jika ingin bertanya, maka tanyakan.
Jika ingin memberi tau maka nyatakan.
Hidup terlalu singkat
untuk menumpuk rasa penasaran”
Kartu nama macam
apa yang hanya terdiri dari nama dan quotes seperti itu. Tidak ada pekerjaan
ataupun contact yang bisa dihubungi. Contact +62 ? What on earth! Tanpa sengaja
ku balik kartu nama itu. Dalam sekejap aku merinding.
Sebuah Petunjuk.

